begitu kata lagunya Sarah Brightman..
Sepenggal kalimat itu tiba-tiba muncul di kepala saya pagi ini dalam perjalanan ke kantor waktu Ibu bbm saya . BBM Ibu itu mengingatkan saya pada Bapak dan Om Pi dan cerita tentang pertemanan mereka.
Om Pi, panggilan kami kepada Om Yosafat Wiharto (sbnrnya gak terlalu yakin dengan nama lengkapnya Om Pi, tapi seingat saya sih begitu namanya), a friend of George Prasetya, my late Bapak, a friend of our family. Bapak dan Om Pi sudah berteman sejak mereka kecil, sejak TK katanya, terus berteman sampai SMA. Kuliah sampai kerja kalo tidak salah sempat ambil jalan sendiri-sendiri. Sekitar tahun 1990 sekian, mereka bersama-sama membentuk PT Alberto Kulman, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan SDM.
well, long story short, dalam satu perusahaan itu pasti banyak dinamikanya. Saya ingat suatu waktu Om Pi tidak datang lagi ke kantor yang kebetulan ada di rumah kami, dan Bapak bilang Om Pi sudah gak di Alberto lagi. Setelah itu Bapak dan Om Pi masih berhubungan baik. Saya sendiri tidak bertemu beliau dalam waktu yang cukup lama sesudah itu. Kemudian kami pindah ke Jogja, Bapak tetap menjadi konsultan management secara independen.
Sampai pada suatu siang, Bapak menerima telepon yang mengabarkan Om Pi, sahabatnya itu, sudah kembali ke rumah Tuhan dengan tenang dan bahagia. Bapak menangis, tersedu-sedu, sampai harus ditenangkan Ibu, sampai saya harus berlari ke dapur mengambilkan segelas air buatnya. Setelah itu Bapak hanya diam dan diam, lamaaaa sekali. Sepanjang waktu saya bersama Bapak, hanya dua kali saya lihat Bapak menangis. Pertama waktu mBah Putri dipanggil Gusti Maha Welas Asih tahun 2001. kemudian waktu menerima kabar Om Pi siang itu. Kali kedua dan yang terakhir.
Itu terakhir kalinya saya melihat Bapak menangis karena 40 hari setelah hari itu Bapak tersenyum bahagia karena bisa berjumpa dengan beberapa kesayangannya. 40 hari tepat setelah hari itu Bapak bisa bertemu dengan Tuhannya, orangtuanya, dan sahabatnya sejak kecil, Om Pi. Apakah ini kebetulan atau tidak, saya tidak tahu. Tapi sampai sekarang saya masih sering terheran-heran kalau mengingat keputusan Tuhan yang satu itu.
*tiba-tiba saya menemukan quotes ini :
"If you should die before me, ask if you could bring a friend." (Stone Temple Pilots)
DANG!!!Banyak orang bilang persahabatan itu abadi, tidak kenal tempat dan waktu. Bapak dan Om Pi adalah bukti nyata dari kalimat itu. Persahabatan tidak selalu senang dan mudah. Saya tidak tau banyak tentang masa sulit yang dialami Bapak dan Om Pi tapi saya yakin pasti mereka pernah harus melalui saat yang tidak mudah. Hanya satu yang saya tau, waktu Om Pi tidak lagi bergabung bersama Alberto Kulman. Belakangan saya baru tau dan sadar betapa sulitnya posisi Bapak sebagai pimpinan harus meminta sahabatnya untuk mengundurkan diri dari perusahaan mereka karena satu dan lain hal. Pergulatan batinnya pasti besar sekali.Tapi berkat persahabatan yang matang karena waktu Bapak dan Om Pi bisa melalui masa-masa sulit itu, melanjutkan jalannya masing-masing
Jalan Bapak dan Om Pi sudah berakhir senang di rumah Tuhan sana tapi keluarga kami masih berhubungan baik sampai saat ini. Irisan waktu Bapak dan Om Pi tak disangka belum berakhir..Ini BBM Ibu tadi pagi "Mbak Tasya anaknya Om Pie juga lagi hamil 5 bulan..skrg di kalibata juga"...
Lucu..sampai mau punya cucu juga, Bapak dan Om Pi dikasihnya bareng2an.
Saya bersyukur saya punya banyak teman dan sahabat...Mereka semua sudah mewarnai cerita saya dengan caranya masing-masing. Hari ini saya hanya ingin berterima kasih kepada semua sahabat saya. Semoga kita masih bisa terus bercerita bersama sampai seterusnya.
"The music may stop now and then, But the strings will remain forever.."